Showing posts with label Creating History Together With ArenaBetting Piala Eropa 2012. Show all posts
Showing posts with label Creating History Together With ArenaBetting Piala Eropa 2012. Show all posts

Saturday, June 9, 2012

Inilah Fakta-Fakta Unik Seputar Piala Eropa 2012

Mulai hari ini16 negara akan mulai menggulirkan Piala Eropa 2012. Selain persiapan tim dan analisa strategi, Euro 2012 menyajikan fakta-fakta menarik yang layak diketahui.

Berikut adalah fakta-fakta menarik terkait Piala Eropa 2012:
  • Irlandia adalah satu-satunya tim yang tidak memanggil pemain yang berasal dari liga lokalnya sendiri. Berkebalikan dari Irlandia, Inggris justru satu-satunya tim yang seluruh skuadnya berasal dari liga domestik.
  • Hanya Robbie Keane (LA Galaxy, MLS) dan Christian Wilhelmsson (Al-Hilal, Saudi Pro Liga) yang bermain untuk klub diluar Eropa.
  • Pemain tertua di turnamen ini adalah Kostas Chalkias (Yunani-38 tahun). Yang termuda adalah Jetro Willems (Belanda-18 tahun).
  • Ada 3 pelatih yang bukan melatih negara asalnya: Fernando Santos [Portugal] melatih Yunani, Dick Advocaat [Belanda] melatih Rusia, Giovanni Trapattoni [Italia] melatih Irlandia.
  • Dari semua pemain yang akan tampil di Piala Eropa ini, Miroslav Klose (Jerman) adalah pencetak gol terbanyak untuk negaranya dengan raihan 63 gol. Sementara Iker Casillas berhasil mencatatkan diri sebagai pemain yang memiliki caps paling banyak untuk negaranya dibanding pemain lain sebanyak 129 kali.
  • Peringkat paling buncit FIFA dalam Piala Eropa 2012 ini dipegang oleh Polandia (65). Dan yang teratas adalah Spanyol (1).
  • Ini adalah pertama kalinya Ukraina ikut serta dalam Piala Eropa.
  • Slavek dan Slavko adalah nama dari maskot resmi Piala Eropa 2012.
  • Sebelum Piala Eropa dimulai, Jerman, Italia, dan Inggris mengunjungi kamp konsenstrasi Nazi di Auschwitz, Polandia.
  • Pelatih Kroasia, Slaven Bilic, akan mengundurkan diri sebagai pelatih tim Kroasia setelah Piala Eropa 2012 selesai dan menjadi pelatih Lokomotiv Moskow.
  • Morten Olsen telah menjadi pelatih Denmark sejak tahun 2000.
  • Jika di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ada alat tiup tradisional bernama "Vuvuzela", maka di Piala Eropa 2012 ini Ukraina juga mempunyai alat tiup tradisionalnya yang bernama "Zozulica".
  • Pelatih tertua adalah pelatih Irlandia, Giovanni Trapattoni, yang berusia 73 tahun. Yang termuda adalah Paulo Bento, pelatih Portugal, 42 tahun.
  • Markus Rosenberg [Swedia] dan Paul Green [Irlandia] adalah dua pemain yang statusnya saat ini bebas klub atau belum memiliki klub resmi.
  • Seluruh stadion milik tuan rumah Piala Eropa 2012 disewa oleh UEFA.
  • Piala Eropa 2012 adalah Piala Eropa terakhir yang diikuti oleh 16 peserta. Mulai Piala Eropa 2016 dimana Prancis menjadi tuan rumah, sebanyak 24 negara akan ikut serta.
  • Slogan turnamen ini "Creating History Together".
  • Jika Spanyol menang, mereka akan menjadi tim pertama yang memenangkan Piala Eropa dua kali berturut-turut.
  • Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Eropa tuan rumahnya berasal dari Eropa Timur.
  • Total 59 pemain yang terpaksa batal ikut Piala Eropa 2012 karena cedera. Jumlah ini adalah yang paling banyak sepanjang sejarah Piala Eropa.
  • Piala Henri Delaunay yang menjadi trofi untuk pemenang berharga 20 ribu euro atau sekitar Rp 237 juta. Tinggnyai 60 cm dan berat 8 kg. 
Semoga bermanfaat



Sumber : detiksport

Tim Ukraina Terbebas dari Sakit Perut

Kiev - Persiapan timnas Ukraina menuju Piala Eropa 2012 sempat terganggu lantaran sebagian pemainnya mengalami sakit perut. Namun, masalah itu telah teratasi dan mereka kini sudah siap tempur.



Dalam berita sebelumnya, disebutkan sebanyak 10 pemain Ukraina, seperti Anatoliy Tymoshchuk dan Andriy Voronin, merasakan sakit pada perut mereka sebelum laga uji coba melawan Turki, Selasa (5/6/2012). Laga uji coba itu sendiri nyaris batal gara-gara masalah biologis ini.

Pelatih Oleg Blokhin sempat menduga ada pihak yang berupaya menyabotase timnya. Namun, sekarang dia malah tak mau membicarakan masalah ini lagi karena para pemainnya yang sempat sakit perut sudah pulih.

"Setelah melewati lebih dari dua hari, anak-anak merasa baik. Topik ini ditutup," ujar Blokhin seperti dilansirReuters.

Ukraina akan mengawali Piala Eropa 2012 dengan melawan Swedia di Olympic Stadium, Kiev, Senin (11/6/202) mendatang. Blokhin memastikan skuadnya sudah siap untuk laga tersebut.

"Sebanyak 23 pemain siap untuk pertandingan melawan Swedia," jelasnya.

"Saya yakin Anda akan melihat tim yang berbeda," tutup dia.




Sumber : detiksport

Friday, June 8, 2012

Juni 2012, Bersama Ciptakan Sejarah

Juni 2012, Bersama Ciptakan Sejarah (Creating History Together).Mulai malam ini, sampai malam 1 Juli mendatang, selama 24 hari non-stop, sepakbola akan terpusat di Polandia dan Ukraina, tapi juga akan terserak di segala penjuru dunia.

Piala Eropa, yang dihelat empat tahun sekali, berselang-seling per dua tahun dengan Piala Dunia, akan kickoff pada pukul 23.00 WIB malam ini, ditandai partai Polandia melawan Yunani di Grup A, lalu dilanjutkan dengan Rusia versus Republik Ceko.

Enambelas negara terbaik di benua biru akan bertarung dengan segenap kemampuannya, dan berharap ditemani sosok nonteknis berupa nasib baik dan dewi fortuna. Siapapun itu, tim favorit ataupun bukan, akan berlomba-lomba membuat sejarahnya masing-masing. 

Tentu saja bukan asal terdengar indah jika slogan terpilih untuk Piala Eropa tahun ini adalah "Creating History Together". Bersama-sama menciptakan histori, sejarah. Sejarah penuh makna, penuh cerita, penuh misteri, dan lain-lain, dan sebagainya, sejarah hitam atau manis, memesona, menyakitkan, dan sebagainya, dan lain-lain.

Faktanya, Polandia dan Ukraina pernah disatukan oleh sejarah masa lalu. Mereka berasal dari rumpun yang sama, budaya Slavik. Lalu, jika Ukraina dulunya memang bagian dari Uni Soviet, Polandia pernah diivasi oleh bekas negara komunis terbesar dunia itu di awal Perang Dunia II.

Kini kedua negara di Eropa timur itu bersatu atas nama sepakbola, berambisi menjadikan Piala Eropa tahun ini sebagai gelaran yang terbaik dalam sejarahnya.

Sebagai tuan rumah, Polandia dan Ukraina bukanlah tim kuat. Polandia baru tampil satu kali di pentas Euro, yakni empat tahun lalu di Austria-Swiss. Hasilnya pun tidak membanggakan mereka: seri sekali, kalah dua kali, mencetak satu gol, kebobolan empat. Ukraina bahkan baru kali ini akan berpartisipasi di ajang terbesar kedua setelah Piala Dunia ini.

Akan banyak sejarah tercipta di delapan kota penyelenggara ini, dimulai dari Warsawa nanti malam, ditutup di Kiev, pada 1 Juli. Apakah Spanyol menelurkan sejarah sebagai negara pertama yang bisa juara dua kali berturut-turut; akankah muncul juara baru; apakah ada pemain yang akan memecahkan rekor jumlah gol terbanyak yang masih dipegang Michel Platini dengan sembilan buah di Euro 1984; siapakah yang paling cepat dikartu merah; benarkah akan terjadi penghentian pertandingan karena ada gestur rasis dari penonton; dan lain-lain, dan sebagainya.

Nun jauh dari daratan Eropa sana, penggila bola di Indonesia akan mengubah jam tidurnya menjadi entah bagaimana, karena sampai akhir bulan ini akan ada 31 pertandingan yang kickoff-nya larut malam. Di mana-mana orang akan membahas sepakbola, sampai-sampai politisi dan selebritas akan "berebut" menjadi komentator pertandingan. Situs jejaring sosial macam twitter lumrah jika terus ramai dengan urusan sepakbola. Tapi ini sama sekali bukan gejala yang baru, bukan hal aneh. Setiap ada Piala Eropa (dan Piala Dunia), ya begitu itu.

Yang barangkali lebih penting adalah pertanyaan "apa efek Piala Eropa buat Indonesia, apa pelajaran yang bisa diambil dari sana?" 

Tapi itu pun bukan pertanyaan baru. Dari dulu, di setiap event, momen terkait sepakbola, pertanyaan itu selalu dimunculkan lagi, diingatkan terus. Maklum, sepakbola di negeri ini masih semrawut. Sebagian orang di belakang meja masih berkonflik kepentingan, suporter masih menyukai kekerasan, "oknum-oknum" pemain masih "ringan tangan dan kaki" terhadap pemain lawan maupun wasit, korps pengadil lapangan hijau kualitasnya masih rendah. Klub menunggak gaji pemain, sponsor masih ogah-ogahan berinvestasi lebih serius. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Tapi, kemarin (7/6) kita mendapat kabar rekonsiliasi. Setelah diurusi Task Force AFC di Kuala Lumpur, PSSI dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), berdamai, berjanji tidak akan "bertanding sebagai lawan". Mudah-mudahan kesepakatan damai itu -- KPSI dinyatakan dibubarkan -- tidak cuma ditandai dengan tanda tangan di atas kertas, tapi juga melalui action yang lebih nyata untuk mengimplementasikan setiap program dan rencana, mengerjakan hal-hal dengan lebih baik, tepat, dan serius, dari, oleh dan untuk semua pihak, sehingga secara bertahap ada perubahan dan perbaikan dalam tatanan sepakbola kita.

Sepakbola Indonesia butuh sejarah baru. 

Selamat menikmati Piala Eropa.



Sumber : Andi Abdullah Sururi (detiksport)